Karyawan Masih Masuk Kerja, Tapi Sudah Tidak Peduli? Kenali Fenomena Quiet Quitting
Published on 2 September 2026by SG8 Creative Team

Datang tepat waktu, membuka laptop, menyelesaikan pekerjaan, lalu pulang ketika jam kerja selesai. Secara kasat mata tidak ada yang salah. Karyawan tersebut tidak terlambat, tidak mangkir, bahkan tugas utamanya masih diselesaikan. Namun ada sesuatu yang berubah. Ia tidak lagi antusias memberikan ide, tidak tertarik mengambil inisiatif, semakin jarang terlibat dalam diskusi, dan memilih melakukan pekerjaan sebatas yang menjadi tanggung jawabnya. Karyawan tersebut belum mengundurkan diri. Tetapi secara emosional, ia mungkin sudah mulai menjauh dari pekerjaannya. Fenomena seperti ini sering dikaitkan dengan istilah quiet quitting.
Apa Itu Quiet Quitting?
Quiet quitting bukan berarti karyawan diam-diam mengajukan resign. Istilah ini umumnya menggambarkan kondisi ketika seseorang tetap bekerja, tetapi membatasi keterlibatan dan kontribusinya pada apa yang dianggap sebagai kewajiban formal pekerjaannya.
Fenomena ini tidak selalu berarti karyawan malas. Dalam beberapa kondisi, perilaku tersebut dapat muncul sebagai respons terhadap tekanan kerja, kelelahan emosional, ketidakjelasan peran, ketidakamanan pekerjaan, atau lingkungan kerja yang dirasakan tidak sehat.
Penelitian pada 1.246 karyawan perusahaan swasta di Indonesia menemukan bahwa toxic work environment berkaitan dengan meningkatnya emotional exhaustion dan quiet quitting. Artinya, ketika engagement karyawan menurun, perusahaan sebaiknya tidak hanya bertanya “Kenapa karyawan sekarang tidak punya inisiatif?”, tetapi juga melihat kondisi psikologis dan lingkungan kerja yang membentuk perilaku tersebut.
Quiet Quitting dan Burnout Bisa Saling Berkaitan
Burnout menjadi salah satu istilah psikologi kerja yang semakin familiar. Kondisi ini bukan sekadar merasa lelah setelah menjalani hari yang sibuk, melainkan berkaitan dengan kelelahan berkepanjangan akibat tekanan pekerjaan yang tidak berhasil dikelola dengan baik. Ketika tekanan berlangsung terus-menerus, sebagian karyawan dapat mulai mengurangi keterlibatan emosional terhadap pekerjaannya.
Mereka tetap menjalankan tanggung jawab utama, tetapi mulai berhenti memberikan usaha tambahan. Penelitian terbaru terhadap karyawan Gen Z menemukan adanya pengaruh positif yang signifikan antara job burnout dan quiet quitting. Studi lain pada pekerja Gen Z dan Milenial di Jakarta juga menemukan bahwa job insecurity dan work related burnout meningkatkan kecenderungan quiet quitting. Oleh karenanya, quiet quitting dapat menjadi sinyal bahwa perusahaan perlu melihat lebih dalam kondisi employee experience dan lingkungan kerjanya.
Toxic Workplace Tidak Selalu Terlihat Dramatis
Ketika mendengar istilah toxic workplace, orang sering membayangkan konflik besar, bullying, atau atasan yang suka berteriak. Padahal lingkungan kerja yang tidak sehat bisa muncul dalam bentuk yang lebih halus.
Karyawan tidak mendapatkan kejelasan mengenai pekerjaannya. Komunikasi antardepartemen buruk. Beban kerja tidak seimbang. Kesalahan kecil selalu dicari siapa pelakunya daripada bagaimana memperbaikinya. Apresiasi minim, sementara tuntutan terus meningkat.
Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat menguras energi psikologis karyawan. Toxic work environment secara signifikan meningkatkan emotional exhaustion pada kelompok Gen Z maupun non Gen Z. Penelitian lain juga menunjukkan adanya hubungan antara lingkungan kerja toksik, kesehatan mental, produktivitas Gen Z, dan fenomena quiet quitting. Dengan demikian, masalah engagement tidak selalu berada pada individunya. Lingkungan tempat seseorang bekerja juga perlu dievaluasi.
Work Life Balance Juga Semakin Penting
Karyawan tidak berhenti menjadi manusia ketika memasuki kantor. Mereka memiliki keluarga, kehidupan sosial, kebutuhan untuk beristirahat, dan berbagai tanggung jawab di luar pekerjaan. Ketika pekerjaan terus mengambil ruang dari kehidupan personal tanpa kesempatan pemulihan yang memadai, keterikatan terhadap pekerjaan dapat ikut menurun.
Penelitian terhadap 393 pekerja Gen Z di Jakarta menemukan hubungan negatif yang signifikan antara work life balance dan emotional quiet quitting dalam sampel penelitian tersebut. Hal ini bukan berarti perusahaan harus menurunkan standar kinerja. Perusahaan tetap membutuhkan produktivitas, disiplin, accountability, dan pencapaian target. Namun tuntutan tersebut perlu didukung oleh sistem kerja yang memungkinkan karyawan mempertahankan performanya secara berkelanjutan.
Karyawan Tidak Punya Inisiatif? Coba Cek Job Descriptionnya
Ada faktor lain yang sering terlupakan yaitu role ambiguity atau ketidakjelasan peran. Karyawan mungkin mengetahui jabatannya, tetapi belum benar-benar memahami batas tanggung jawab, kewenangan, prioritas pekerjaan, atau ekspektasi perusahaan terhadap posisinya. Akibatnya, karyawan lebih memilih bermain aman dan hanya mengerjakan apa yang diperintahkan.
Studi terbaru terhadap pekerja di Jakarta menemukan bahwa role ambiguity berhubungan positif dengan quiet quitting, dengan hustle culture berperan sebagai mediator parsial dalam hubungan tersebut. Oleh karenanya, sebelum menilai seseorang kurang memiliki inisiatif, perusahaan perlu memastikan bahwa job role, target, authority, dan expectation sudah dipahami dengan jelas.
Quiet Quitting Tidak Bisa Diselesaikan dengan Motivasi Saja
Ketika engagement menurun, perusahaan terkadang langsung mengadakan motivational training. Langkah tersebut belum tentu salah. Namun apabila penyebab utamanya adalah workload yang tidak realistis, leadership yang buruk, role ambiguity, ketidakjelasan career path, atau budaya kerja yang tidak sehat, motivasi sesaat tidak akan menyelesaikan akar masalah.
Perusahaan perlu melakukan diagnosis lebih dalam terhadap people dan organizational system. “Apakah manpower sudah sesuai dengan workload? Apakah manager memiliki kemampuan memimpin? Apakah pembagian pekerjaan sudah proporsional? Apakah karyawan memiliki kesempatan berkembang? Apakah komunikasi berjalan dua arah? Apakah penghargaan dan feedback diberikan secara sehat?”. Pendekatan seperti ini membuat perusahaan tidak hanya menangani gejala, tetapi mulai memahami penyebabnya.
Jangan Tunggu Karyawan Resign untuk Mulai Peduli
Quiet quitting dapat sulit dikenali karena karyawan masih hadir dan tetap menyelesaikan pekerjaan. Namun perlahan perusahaan dapat kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting: engagement, initiative, creativity, dan sense of belonging. Burnout, toxic workplace, job insecurity, ketidakjelasan peran, serta work life balance merupakan beberapa faktor yang perlu diperhatikan ketika perusahaan melihat perubahan perilaku karyawannya. Berbagai penelitian terbaru di Indonesia menunjukkan bahwa faktor-faktor psikologis dan lingkungan kerja tersebut memang berkaitan dengan quiet quitting. Oleh karenanya, ketika seorang karyawan mulai kehilangan antusiasme, pertanyaannya sebaiknya bukan hanya “Ada apa dengan karyawan ini?” tetapi juga “Ada apa dengan lingkungan tempat ia bekerja?.”
SG8 Manpower Supply & Management Consulting
Membangun workforce yang produktif membutuhkan lebih dari sekadar mengisi posisi kosong. Perusahaan perlu memastikan bahwa jumlah tenaga kerja, pembagian pekerjaan, kompetensi, dan sistem organisasi berjalan sesuai kebutuhan bisnis. Melalui SG8 Manpower Supply, SG8 Group membantu perusahaan memenuhi kebutuhan tenaga kerja profesional sesuai karakteristik pekerjaan dan kebutuhan operasional. Ketersediaan manpower yang tepat dapat membantu perusahaan menjaga kapasitas kerja sekaligus mengurangi risiko ketidakseimbangan workload.
Sementara melalui SG8 Management Consulting, perusahaan dapat memperoleh dukungan dalam mengevaluasi kebutuhan organisasi, proses kerja, produktivitas, people management, serta strategi pengembangan organisasi agar lebih efektif dan berkelanjutan. Hal ini dikarenakan persoalan karyawan tidak selalu diselesaikan dengan menambah orang, dan masalah organisasi tidak selalu diselesaikan dengan mengganti orang. Terkadang perusahaan perlu memperbaiki sistem tempat orang tersebut bekerja. SG8 Manpower Supply & Management Consulting. Better People. Better Workplace. Better Performance.
SG8 Group
Partner Operasional Bisnis Anda