Karyawan Terus Bertambah, Tapi Produktivitas Tidak Naik? Mungkin Ini Masalahnya
Published on 2 September 2026by SG8 Creative Team

Perusahaan berkembang, pekerjaan bertambah, dan target semakin besar. Ketika beban kerja mulai meningkat, keputusan yang sering muncul adalah menambah karyawan. Namun setelah recruitment dilakukan, masalah terkadang tetap sama. Pekerjaan masih menumpuk, koordinasi masih lambat, meeting semakin banyak, dan produktivitas tidak meningkat secara signifikan. Kondisi ini menimbulkan satu pertanyaan penting “Apakah perusahaan benar-benar kekurangan orang, atau sebenarnya ada masalah dalam cara organisasi bekerja?” Inilah mengapa Organization Development semakin penting bagi perusahaan yang ingin bertumbuh.
Banyak Karyawan Belum Tentu Lebih Produktif
Produktivitas perusahaan tidak hanya ditentukan oleh jumlah karyawan. Perusahaan bisa memiliki ratusan karyawan, tetapi tetap mengalami pekerjaan yang tumpang tindih, job description yang kurang jelas, approval terlalu panjang, komunikasi antardepartemen yang lemah, atau supervisor yang belum mampu melakukan delegasi. Dalam kondisi seperti ini, menambah tenaga kerja belum tentu menyelesaikan masalah. Perusahaan justru perlu mengevaluasi people, competency, leadership, structure, culture, dan process secara keseluruhan. Organization Development membantu organisasi melihat hubungan tersebut secara sistematis untuk meningkatkan kemampuan workforce dan hasil bisnis.
Skill Gap Menjadi Tantangan Besar Perusahaan
Dunia kerja berubah dengan cepat. AI, otomatisasi, data, dan digitalisasi mulai mengubah cara pekerjaan dilakukan. Kompetensi yang dibutuhkan perusahaan hari ini pun belum tentu sama dengan lima tahun lalu. World Economic Forum memperkirakan sekitar 39% keterampilan pekerja akan berubah atau menjadi kurang relevan hingga 2030. Bahkan, 63% perusahaan yang disurvei menyebut skill gap sebagai hambatan utama transformasi bisnis. Ini berarti perusahaan tidak cukup hanya memiliki jumlah karyawan yang sesuai. Perusahaan juga membutuhkan kompetensi yang sesuai. Oleh karenanya, upskilling dan reskilling semakin penting dalam strategi pengembangan SDM.
AI Masuk Dunia Kerja, Kompetensi Karyawan Harus Ikut Berkembang
Perubahan ini juga semakin terlihat di Indonesia. Terlihat dari 69% pekerja Indonesia telah menggunakan AI dalam pekerjaannya selama 12 bulan terakhir. Di antara pengguna harian GenAI di Indonesia, 96% melaporkan peningkatan produktivitas. Namun teknologi saja tidak otomatis membuat organisasi menjadi lebih produktif. Perusahaan tetap membutuhkan kemampuan manusia seperti analytical thinking, leadership, collaboration, resilience, flexibility, dan creative thinking, yang juga diperkirakan tetap penting di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap AI dan keterampilan teknologi. Artinya, strategi pengembangan karyawan perlu menggabungkan digital skill dan human skill.
Rekrut Orang Baru atau Kembangkan Karyawan Lama?
Ketika perusahaan membutuhkan kompetensi baru, recruitment memang dapat menjadi solusi. Namun, tidak semua kebutuhan harus selalu diselesaikan dengan mencari orang dari luar. Perusahaan juga perlu melihat potensi yang sudah dimiliki. Seorang staf mungkin memiliki potensi menjadi supervisor. Karyawan operasional mungkin mempunyai kemampuan customer handling yang kuat. Supervisor berpengalaman mungkin dapat dikembangkan menjadi internal trainer. Oleh karenanya, perusahaan perlu menentukan dengan tepat “kapan harus hire dan kapan harus develop”. World Economic Forum mencatat bahwa 85% employer yang disurvei berencana memprioritaskan upskilling workforce, sementara 70% berencana merekrut tenaga kerja dengan keterampilan baru. Strategi workforce yang baik berarti mampu menyeimbangkan keduanya.
Training Banyak Belum Tentu Karyawan Berkembang
Perusahaan mungkin rutin mengadakan leadership training, communication training, teamwork, atau service excellence. Namun ukuran keberhasilan training bukan sekadar jumlah peserta atau sertifikat yang dibagikan. Pertanyaan yang lebih penting adalah “Apa yang berubah setelah training? Apakah supervisor menjadi lebih baik dalam memimpin? Apakah koordinasi meningkat? Apakah komplain pelanggan menurun? Apakah pekerjaan menjadi lebih efektif?". Oleh karenanya, program People Development sebaiknya berangkat dari business needs dan competency gap, kemudian diterjemahkan menjadi program pengembangan yang relevan. Training seharusnya bukan sekadar kegiatan tahunan. Training harus membantu menyelesaikan kebutuhan organisasi.
Budaya Kerja Juga Menentukan Produktivitas
Perusahaan bisa memiliki orang-orang pintar dan teknologi yang bagus, tetapi tetap sulit berkembang ketika budaya kerjanya tidak mendukung. Kalimat seperti “bukan bagian saya”, “dari dulu juga begini”, atau kebiasaan saling menyalahkan ketika terjadi masalah dapat menjadi penghambat perubahan. Hal ini bukan persoalan kecil. Sebanyak 46% employer dalam survei Future of Jobs menyebut budaya organisasi dan resistensi terhadap perubahan sebagai salah satu hambatan utama transformasi organisasi. Organization Development itu bukan hanya tentang meningkatkan skill. Perusahaan juga perlu membangun budaya kolaborasi, accountability, komunikasi, continuous learning, dan kesiapan menghadapi perubahan.
Jadi, Apakah Perusahaan Benar-Benar Kekurangan Orang? Sebelum membuka lowongan baru, perusahaan perlu melihat masalahnya lebih dalam. Jika pekerjaan menumpuk, apakah manpower memang kurang atau prosesnya terlalu panjang? Jika target tidak tercapai, apakah jumlah karyawan kurang atau kompetensinya belum sesuai? Jika koordinasi buruk, apakah perlu menambah supervisor atau justru sistem komunikasi dan kepemimpinannya yang harus diperbaiki? Pertanyaan tersebut penting karena menambah orang dan membangun organisasi adalah dua hal yang berbeda. Organization Development membantu perusahaan memastikan bahwa jumlah tenaga kerja, kompetensi, leadership, struktur, budaya, dan proses kerja berkembang sejalan dengan kebutuhan bisnis.
Perusahaan tidak selalu membutuhkan lebih banyak karyawan untuk menjadi lebih produktif. Dalam beberapa kondisi, yang dibutuhkan justru adalah people yang tepat, kompetensi yang tepat, leadership yang efektif, budaya kerja yang sehat, dan proses yang lebih efisien. Terlebih ketika AI dan teknologi mengubah dunia kerja dengan cepat, perusahaan perlu membangun workforce yang mampu terus belajar dan beradaptasi. Dengan demikian, perusahaan tidak tumbuh hanya karena jumlah karyawannya bertambah. Perusahaan tumbuh ketika people dan organisasinya berkembang bersama.
SG8 Labour Supply & People Development
Pertumbuhan organisasi membutuhkan keseimbangan antara ketersediaan tenaga kerja dan pengembangan kompetensi. Melalui SG8 Labour Supply, SG8 Group membantu perusahaan memenuhi kebutuhan tenaga kerja profesional yang disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan dan kebutuhan operasional.
Sementara melalui SG8 People Development, SG8 membantu perusahaan mengembangkan kompetensi workforce melalui program yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan organisasi, mulai dari leadership, supervisory skill, communication, teamwork, service excellence, work ethic, problem solving, hingga workplace culture.
Dengan kombinasi tersebut, perusahaan tidak hanya mendapatkan people yang dibutuhkan hari ini, tetapi juga dapat mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi perubahan bisnis berikutnya. SG8 Labour Supply & People Development. The right people in the right place at the right time.
SG8 Group
Partner Operasional Bisnis Anda