Psychology

Umur 20 an Tapi Sudah Merasa Tertinggal? Mungkin Kamu Sedang Mengalami Quarter Life Crisis

Published on 3 September 2026by SG8 Creative Team

Umur 20 an Tapi Sudah Merasa Tertinggal? Mungkin Kamu Sedang Mengalami Quarter Life Crisis

Umur masih 20 an, tetapi rasanya hidup sudah seperti sedang berlomba. Buka LinkedIn, teman sudah dapat pekerjaan baru. Buka Instagram, ada yang menikah. Buka TikTok, muncul orang seusia kita yang katanya sudah punya bisnis, investasi, rumah, bahkan penghasilan puluhan juta. Lalu tanpa sadar muncul pertanyaan “Kok hidup mereka sudah jauh, sementara aku masih begini-begini saja?”. Jika pernah merasakan hal tersebut, kamu tidak sendirian. Perasaan bingung mengenai karier, masa depan, hubungan, keuangan, hingga pencapaian diri pada usia dewasa muda sering dikaitkan dengan istilah quarter life crisis.

 

Quarter Life Crisis Adalah Apa?

 

Quarter life crisis merupakan periode ketika seseorang mulai mengalami ketidakpastian, kebingungan, atau tekanan ketika memasuki fase dewasa. Pada fase ini, pertanyaannya mulai berubah. Bukan lagi sekadar “Besok mau ngapain?”, tetapi menjadi “Sebenarnya hidupku mau dibawa ke mana?”.

Karier, pekerjaan, penghasilan, hubungan, keluarga, hingga masa depan mulai dipikirkan secara bersamaan.

Quarter life crisis bukan diagnosis gangguan mental. Istilah ini lebih sering digunakan untuk menggambarkan periode transisi dan ketidakpastian pada masa dewasa muda.

 

Kenapa Gen Z Mudah Merasa Tertinggal?

 

Salah satu faktor yang membuat pengalaman tersebut semakin terasa adalah social comparison. Media sosial memungkinkan kita melihat pencapaian orang lain hampir setiap hari. Masalahnya, kita sering membandingkan kehidupan lengkap kita dengan highlight kehidupan orang lain.

Social comparison pada pengguna TikTok dewasa muda secara signifikan memprediksi quarter life crisis dalam sampel penelitian tersebut. Melihat pencapaian orang lain sebenarnya tidak selalu buruk. Hal tersebut dapat menjadi motivasi. Namun jika terus memunculkan perasaan “aku kurang sukses”, “aku terlambat”, atau “seharusnya umur segini sudah...”, tekanan psikologis dapat semakin besar.

 

Belum Punya Karier yang Jelas Juga Bikin Overthinking

 

Salah satu sumber quarter life crisis yang paling dekat dengan Gen Z adalah karier. Setelah lulus kuliah, realitas dunia kerja belum tentu berjalan sesuai rencana. Ada yang masih mencari pekerjaan. Ada yang sudah bekerja tetapi merasa salah jurusan. Ada yang ingin resign tetapi takut menganggur. Ada pula yang melihat teman mendapatkan promosi lalu mulai mempertanyakan kemampuan dirinya sendiri. Inilah mengapa quarter life crisis sering berjalan beriringan dengan overthinking, insecure, FOMO, dan career anxiety.

 

Jangan Ukur Hidup dengan Timeline Orang Lain

 

Ini mungkin bagian terpentingnya. Tidak semua orang harus sukses pada usia yang sama. Ada orang yang menemukan kariernya pada usia 22 tahun. Ada yang baru menemukan bidang yang cocok pada usia 27 tahun. Ada pula yang harus mencoba beberapa pekerjaan sebelum mengetahui apa yang benar-benar ingin dikembangkan. Karier bukan perlombaan dengan satu garis finish. Daripada terus bertanya “Kenapa aku belum seperti mereka?”, lebih produktif jika pertanyaannya diubah menjadi “Apa yang bisa aku tingkatkan dari diriku hari ini?”. Mulailah dari hal yang bisa dikendalikan seperti kemampuan, pengalaman, networking, komunikasi, digital skill, kemampuan menggunakan AI, leadership, problem solving, hingga kesiapan menghadapi perubahan dunia kerja.

 

Gen Z Tidak Hanya Butuh Pekerjaan, Tapi Juga Kesempatan Berkembang

 

Quarter life crisis bukan hanya isu individu. Perusahaan juga perlu memahami perubahan generasi tenaga kerja. Gen Z memasuki dunia kerja dengan ekspektasi terhadap pengembangan karier, lingkungan kerja, fleksibilitas, dan kesempatan belajar. Aspek seperti lingkungan kerja yang suportif, perkembangan karier, dan work life balance ikut menjadi pertimbangan mereka dalam dunia kerja. Oleh karenanya, perusahaan tidak cukup hanya merekrut talenta muda. Perusahaan juga perlu menciptakan lingkungan yang membantu mereka berkembang. Leadership, komunikasi, coaching, career development, learning culture, dan kesempatan meningkatkan kompetensi akan semakin penting dalam mempertahankan generasi workforce berikutnya.

 

Kamu Tidak Terlambat, Kamu Sedang Berproses

 

Melihat orang lain lebih dahulu mendapatkan pekerjaan, promosi, menikah, membangun bisnis, atau mencapai target finansial memang dapat membuat seseorang mempertanyakan kehidupannya sendiri.

Namun hidup tidak memiliki timeline yang sama untuk semua orang. Quarter life crisis justru dapat menjadi momentum untuk mengenali kembali apa yang ingin dicapai, kompetensi apa yang perlu dikembangkan, dan langkah apa yang bisa dilakukan berikutnya. Jadi ketika melihat teman sudah jauh melangkah, jangan langsung berpikir “Aku tertinggal.” Mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah

“Apa langkah kecil yang bisa aku mulai hari ini?”.

 

SG8 Management Consulting & Business dan SG8 People Development

 

Perubahan dunia kerja membuat perusahaan perlu memahami bukan hanya kebutuhan bisnis, tetapi juga perubahan karakteristik workforce. Melalui SG8 Management Consulting & Business, SG8 Group membantu perusahaan mengevaluasi organisasi, proses kerja, produktivitas, people management, dan strategi pengembangan bisnis agar lebih efektif menghadapi perubahan.

Sementara melalui SG8 People Development, perusahaan dapat mengembangkan kompetensi karyawan melalui berbagai program seperti leadership, communication, teamwork, problem solving, service excellence, work ethic, supervisory skill, hingga pengembangan budaya kerja. Hal ini dikarenakan perusahaan masa depan tidak hanya membutuhkan talent yang siap bekerja, tetapi juga organisasi yang siap membantu talent berkembang. Grow the People. Strengthen the Organization.


SG8 Group

Partner Operasional Bisnis Anda